Archive for the "Obyek Wisata di Bali" Category

Masyarakat Tanjung Benoa Tuntut Pembangunan Jalan Lingkar

Pembangunan jalan tol di atas perairan Nusa Dua – Beñoa diprediksi akan menambah beban lalu lintas di seputaran Tanjung Benoa. Masyarakat pun kembali mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan pembangunan jalan meingkar di kawasan tersebut.

Tokoh masyarakat Kuta Selatan yang juga anggota Komisi B DPRD Badung I Nyoman Karyana,  mengatakan, kondisi lain lintas di Jalan Pratama selalu krodit. Bahkan pada saat liburan kemacetan di jalur tersebut tak bisa dihindarkan meskipun Jalan Pratama relatif pendek. “Macetnya bisa sampai tiga jam. Padahal jalan itu pendek.” ujarnya.
Dijelaskannya, Jalan Pratama adalah akses utama banyak fasilitas pariwisata di kawasan Tanjung Benoa.  Sayang, jalur tersebut sangat sempit sehingga tidak bisa dilalui banyak kendaraan terutama bus-bus pariwisata. Permasalahan ini sudah sangat sering menjadi keluhan, baik oleh warga maupun wisatawan.

Hal senada juga diungkapkan Bendesa Adat Bualu. Menurutnva realitas selama ini telah menunjukkan betapa jalur tersebut sudah begitu krodit dan sangat rawan macet. “Misalnya saat pergantian tahun atau saat masyarakat mengadakan upacara.  Karena jalurnya padat,  semua kegiatan sosial kemasyarakatan ataupun perekonomman jadi terhambat. Apalagi nanti kalau jalan tolnya sudah terealisasi. Kami harap usulan pembangunan jalan melingkar ke depannya segera direalisasikan.” tambahnya.

Masyarakat khawatir jika dampak jalan tol di atas perairan tidak diantisipasi mulai sekarang. Jalan tol Nusa Dua – Benoa dipastikan akan menambah beban lalu lintas di Nusa Dua khususnya di Jalan Pratama. Oleh karenanya,  kembali mendesak Pemkab Badung segera membuat Detail Engineering Design (BED) jalan mehngkar di kawasan Nusa Dua sebagai bentuk antisipasi.  Diharapkan, BED sudah dianggarkan diAPBD Peruhahan 2012 sehingga jalan dimaksud bisa tuntas bersamaan dengan jalan tol Nusa Dua – Benoa.

Kebutuhan penambahan ruas jalan di kawasan tersebut sangat mendesak. Kalau Jalan Pratama diperlebar dan tetap dua arah, itu sangat tidak mungkin karena pembangunan sudah sangat padat.  Jalan yang ada sekarang thlanjutkan kemudian melingkar di atas atau pinggir kawasan mangrove untuk kembali di simpang Siligita.

 

Circus Waterpark Kini Hadir di Kuta Bali

ircus Waterpark Bali merupakan wisata wahana permainan air terbaru di pulau Bali.  Wahana ini berlokasi di Jalan Kediri, kawasan startegis di Kuta. Luas arealnya mencapai lebih dari 2 hektar, dan kehadirannya memiliki konsep yang berbeda dari wisata taman air yang sudah ada di pulau Bali. Dapat dinikmati oleh siapapun dan berbagai kalangan dan umur. Circus Waterpark Bali adalah salah satu usaha dan PT. Mega Biru Selaras yang merupakan usaha industri rekreasi air dan sangat berpengalaman di bidangnya.

Nama Circus, digunakan karena circus identik dengan keceriaan, kegembiraan yang berhubungan dengan kebutuhan hiburan bagi masyarakat. Siapapun yang datang pasti merasakan kebahagiaan, kesenangan dan pengalaman tersendiri. Bahkan pemilihan warna logo pun yakni warna biru, merah, kuning dan putih, mengidentifikasikan dari sifat-sifat yang melambangkan ketenangan, keberanian dalam kehidupan, persahabatan, serta ketulusan dalam melayani dan menjalani segala aktifitasnya.

Circus Waterpark ini memiliki tokoh utama di dalamnya yakni “Willy the walrus”, seekor anjing laut yang lincah, cerdas dan mudah bersahabat dengan siapa saja. Kehadiran Circus Watpark Bali ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas baik untuk anak – anak dan dewasa yang meliputi Speed Slider, Wave Slider, Spiral Slider, Speed Water Boom, dan Lazy River untuk dewasa. Slider Tube Phinisy Game, Mini Slider, Spilled Bucket untuk anak – anak, dan beberapa outlet yang menunjang wahana permainañ tersebut, antara lain, n Club house yang dapat digunakan untuk sarana ramah tamah, ulang tahun, serta acara – acara lainnya dengan kapasitas 300 orang sampai 500 orang . Juga ada Kini outlet food court yang bekerjasama dengan beberapa perusahaan yang sudah memiliki nama yaitu Mm Juice, Cak asmo, dan Savhira catering.

Bahkan Souvenir Shop pun tersedia, yang menyediakan berbagai macam cindera mata, dan keperluan pengunjung selama berada di wahana. Reflexiologi, tatoo corner, candid photo, face painting juga tersedia di salah satu outlet Circus Waterpark yang disebut Activity corner outlet. Untuk kenyamanan dan keamanan pengunjung dilengkapi fasilitas areal parkir yang mencukupi, locker dan shower room, penyewaan handuk, Klinik atau P3K, Gazebo atau tenda, dan juga Mushola.

 

Konservasi Penyu di Perancak Jembrana

Konsérvasi penyu Kurma Asih yang bérada di Desa Perancak, Jembrana menjadi sebuah daya tarik wisata. Proses pelestarian binatang berkaki empat itu banyak dikunjungi wisatawan, bahkan menjadi sebuah edukasi bagi sIswa-slswi di Bali juga luar Bali.

Pada musim-musim tertentu, Kurma Asih banyak dikunjungi wisatawan. Utamanya murid-murid yang ingin mengetahui proses penyu berkembang biak,” kata I Wayan Anom Astika Jaya, Ketua Konservasi Kurma Asih. Wisatawan mancanegara yang berkunjung, lebih banyak yang peduli lingkungan seperti dari Ausralia Prancis, dan Belanda. Ada juga yang hanya sekedar melihat-lihat tempat telor, tukik (anak penyu) dan suasana pantai. Demikian pula dengan siswa-siswi. Mereka biasanya datang secara kelompok yang diantar gurunya. Di samping itu, ada juga dari kelompok konservasi penyu daerah lain di Bali dan luar Bali (Kalimantan Timur, Rajampat Papua, dan Jawa) yang melakukan study banding. Diakhir kunjungannya, mereka bisa melepas tukik ke tengah laut.  Sayangnya, konservasi penyu yang juga menjadi. daya tarik wisata tidak dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.

Toilet,tempat istirahat dan ruangan untuk menerima tamu tidak ada sama sekali. Tamu-tarnu yang berkunjung diajak duduk di kayu-kayu di bawah pohon dan bale bengong. “Itulah kendala kami. Kami, sudah mohon tapi belum ada realisasinya. Kami juga berusaha mencari bapak angkat,” ucapan Anom penuh harap.

Menurutnya, musim penyu naik ke darat dan bertelur pada April – September. Telur itu akan menetas dalam waktu 60 hari dan 50 hari kalau kulaitas telur baik. Dan 100 telor penyu bisa menetas 80 persen. Tukik itu selanjutnya diletakan di penampunagan maksimal satu bulan. Nah disinilah kendala kami, kalau tidak ada. yang mencari tukik berarti harus lebih lama tinggalnya. Itu akan harus memberi makan. Padahal kami tidak membesarkan dan tidak menangkarkan. Karena itu, tukik yang ada kami lepas saja,” paparnya.

Beralih Profesi

Konservasi Kurma Asih berdiri Sejak 1997 yang anggotanya merupakan masyarakat setempat yang berprofesi sebagai nelayan. Para anggota Kurma Asih ini awalnya sebagai pemburu penyu. Namun, setelah mendapat pembinaan berubah menjadi pelestari penyu. “Hal itu, setelah kami mendapat pembinaan dari pemerintah, LSM, WWF, dan organisasi social lainnya untuk melestarikan penyu. Anom lalu menceritakan, dulu para nelayan ini adalah pemburu penyu yang sadis.  Kalau pada malam hari, mereka menangkap penyu dengan menggunakan jaring, sedangkan pada siang hari memakai tombak.  Ada juga dari mereka yang menangkap dengan menggunakan tangan. Yang menjadi buruan primadona adalah penyu hijau. giling dan sisik. Hasil tangkapan mereka sampai puluhan ekor dalam setiap han. Bahkan kandang yang rata-rata menampung 10 ekor itu tidak bisa nampung.

Kegiatan ini dilakukan secara turun temurun. Lokasinya tidak hanya di Pantai Perancak, melainkan sampai ke Pantai Gilimanuk dan Alas Purwa. Saat itu, mereka tidak pemah berpikir apakah penyu itu bisa atau lestari.  Dalam pikiran mereka, bisa mendapat penyu dan uang. Hasil tangkapan itu di pasarkan ke Denpasar, Sesetan, Kapal, dan Tanjung Benoa.

Mulai tahun 1970-an hasil tangkapan merrka terus berkurang. Jangankan menangkap penyu, melihat kepala penyu naik ke permukaan laut pun jarang. Mereka kebingunan mendapatkan penyu. Mulai tahun 1997, akhirnya datang LSM ke Desa Perancak yang diketahui sebagai daerah pendaratan dan pengeluaran penyu. Keyakinan LSM itu diperkuat setelah mereka melihat jenis penyu lekang yang bersisik bertelur ke darat. Maka mereka yakin kuat Perancak ini sebagai daerah penyu. Semenjak itu, Kurma Asih sangat yakin dan bertekad menjadi pelestari penyu. Masalah pendanaan, dan tahun 1997 sampai tahun 2000 dibiayai WWF. Setelah itu, Kurma Asih menggalang dana sendiri. Lahan yang sebelumnya disewa dari penduduk, mulai tahun 2003 dibebaskan oleh Gubernur Bali sebanyak 20 are.Nah, di atas lahan ini khusus sebagai tempat konservasi penyu.

 

Tradisi Trunyan Letakkan Mayat di Bawah Pohon Kemenyan

Desa Trunyan yang berlokasi di sebelah timur Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali memiliki tradisi unik tidak mengubur mayat, melainkan meletakkan mayat di bawah pohon kemenyan. Tradisi itu sudah dilakukan secara turun temurun. Tradisi itu berlaku hanya untuk warga yang meninggal biasa dan tidak cacat fisik. Jika mati tidak wajar (bunuh diri) mayatnya akan dikubur di Sema Bantas (kuburan bantas). Khusus untuk mayat bayi dikubur di Sema Muda (kuburan muda).

Sementara itu, menaruh mayat di bawah pohon kemenyan, hanya boleh bagi 11 mayat. Jika ada salah satu mayat yang sudah kering dan tinggal tulang belulang barulah boleh menaruh mayat lagi. Mayat yang disandarkan sama sekali tidak mengeluarkan bau busuk, karena penyerapan pohon kemenyan yang mampu menetralisir bau busuk. Tradisi ini tidak berlaku bagi warga yang keluar menikah dan tidak mau mengikuti tradisi itu. Masyarakat asli Trunyan berjumlah 200 KK yang merupakan penduduk turun-temurun, jika menikahi orang luar yang bersangkutan bisa tinggal di Desa Trunyan asalkan mengikuti tradisi itu.

Menurut sejarah, Desa Trunyan merupakan salah satu dari tiga suku asli di Bali dan bukan gelombang pengungsian dari Majapahit. Dua suku asli lainnya berada di Karangasem bernama Suku Telengan dan suku Suku Yeh Ketipat di Buleleng. Saat ini, bukti sejarah peninggalan suku asli Bali itu, masih ada di antaranya adanya pura kuno yang bernama Pura Pancering Jagat. Seperti tercatat dalam prasasti Trunyan disebutkan pada tahun saka 813 ( 891 Masehi) Raja Singhamandawa memberikan izin kepada penduduk untuk mendirikan pura Turun Hyang atau Pura Pancering Jagat sebagai tempat pemujaan Betara Da Tonta (Hyang Pancering Jagat). Pura yang dilengkapi meru tumpang pitu (tujuh) ini dipercaya sebagai pura pertama di Bali.

Sementara itu, untuk kunjungan wisatawan tak menentu mengunjungi mayat di Bawah Pohon tersebut. Mayat yang diletakkan begitu saja di bawah pohon kemenyan tanpa dikubur di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, tercatat tidak menentu dikunjungi wisatawan asing. Medan yang sangat jauh dan cukup menyeramkan, telah membuat kunjungan wisatawan asing ke kawasan wisata yang dikenal dengan setra (kuburan) keramat itu tidak menentu dikunjungi wisatawan. Desa Trunyan yang terletak di bagian lereng sebuah bukit, selama ini hanya dapat dijangkau dengan menaiki kapal motor atau perahu menyeberangi bentangan Danau Batur dari Desa Kedisan. Ketidakmenentuan itu terlihat dari frekuensi kapal motor yang menyeberangkan penumpang ke lokasi mayat di bawah pohon tersebut. Kadang ada tiga kapal, kadang hanya satu saja, terkadang lagi tidak ada kunjungan.

Soal kunjungan wisatawan setiap harinya ke wisata setra keramat itu, jika dihitung dari jumlah kapal motor yang menyeberang, angka tertinggi sebanyak 27 orang tiap harinya. Setiap harinya ada tiga kapal menyeberang dan satu kapal motor mengangkut penumpang sebanyak sembilan orang. Dengan demikian, seharinya paling tinggi dikunjungi 27 wisatawan. Wisatawan yang berkunjung ke setra keramat itu biasanya naik perahu atau kapal motor dari Desa Kedisan, Kintamani, menempuh rute perjalanan menyeberangi Danau Batur selama 30 menit. Sebenarnya bisa juga lewat jalan darat, namun hal itu jarang dilakukan oleh wisatawan asing, karena medannya yang terlalu berat.

 

Wisata Gua dengan Ribuan Kelelawar

Objek wisata Gua Lawah di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, yang di dalamnya dihuni ribuan kelelawar, diminati wisatawan mancanegara.

Tiap hari rata-rata ada 200 wisatawan mancanegara yang berkunjung ke gua ini. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ini mulai terlihat sejak pertengahan Juli lalu. Banyaknya, wisatawan asing itu memberikan berkah kepada para pedagang serta Pemkab Klungkung. Karena makin meningkat kunjungan, maka pendapatan asli daerah (PAD) akan meningkat pula.

Kondisi ini diperkirakan akan terjadi sampai September mendatang, karena saat ini memang musimnya ramai kunjungan wisatawan asing. Wisatawan asing yang mendominasi berasal dari Eropa, sedangkan wisatawan lainnya, seperti Jepang dan Cina mengalami penurunan drastis.

Padatnya kunjungan wisatawan itu, biasanya terjadi pada pukul 11.00 Wita sampai dengan 14.00 Wita, karena pada waktu itu banyak wisatawan asing yang lewat di Kabupaten Klungkung untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Karangasem.

Untuk bisa masuk objek wisata yang juga terdapat pura peninggalan abad ke-11 itu. Untuk masuk ke pura peninggalan Mpu Kuturan itu, pengunjung domestik maupun mancanegara wajib mengenakan kamben atau sarung khas Bali.

Bagian yang paling menarik di objek wisata ini seluas dua hektar dan berjarak 49 kilometer ke timur dari Kota Denpasar itu adalah sebuah gua, yang terletak di bagian paling dalam kompleks pura.

 

Air Terjun Tegenungan Ramai Dikunjungi Wisman

Wisata alam air terjun yang berlokasi di Desa Tegenungan, Kemenuh, Sukawati, sekarang sudah kembali ramai dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Selama liburan kira-kira 100 orang per hari wisatawan mancanegara asal Eropa menyaksikan indahnya air terjun dengan ketinggian lebih dari 20 meter itu.

Namun kendala jalan menuju objek wisata alam Tegenungan sekarang ini mengalami kerusakan yang cukup parah, selain juga sempit. Menurut informasi, Pemkab Gianyar akan segera memperbaiki jalan tersebut agar jumlah kunjungan wisatawan ke objek tersebut lebih banyak lagi. Di sekitar objek air terjun sudah ada warung yang menjual makanan dan minuman ringan untuk menghilangkan rasa haus bagi wisatawan setelah turun ke sungai.

Selain wisatawan mancanegara, dalam musim liburan objek wisata tersebut juga banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal sekitar Gianyar, Denpasar dan Klungkung. Tiap pengunjung dikenakan tiket masuk yang besarnya Rp 4.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak.

Diharapkan jalan ini segara diperbaiki, sehingga jumlah wisatawan akan makin ramai yang sekaligus pendapatan dari berjualan tiket masuk juga bertambah.

 

SDM dan Pemasaran Menjadi Kendala Pengembangan Wisata Pedesaan

Dikembangkannya Desa Pangsan sebagai desa wisata di Kecamatan Petang, menambah daya tarik wisata di Badung Utara yang bisa dinikmati wisatawan yang berlibur ke Bali. Dalam pengembangannya, Desa Pangsan masih terkendala kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama yang bisa berbahasa asing termasuk pemasaran paket wisata di Desa Pangsan kepada calon wisatawan.

Desa Pangsan memang mampu menyajikan berbagai atraksi wisata seperti trekking, rafting dan sarana akomodasi yang telah disediakan masyarakat. Dengan mengedepankan sektor pertanian, masyarakat di Desa Pangsan juga mampu menghasilkan produk pertanian yang bisa dinikmati wisatawan seperti salak, berbagai sayuran seperti kacang-kacangan, sayur hijau, sayur pakis dan beberapa jenis produk pertanian lain.

Dengan modal hasil produk pertanian tersebut, pengelola akomodasi di Desa Pangsan mampu menyajikan berbagai menu makanan yang bisa dinikmati wisatawan selama menginap di Desa Pangsan. Saat ini kendala yang dihadapi pelaku wisata di Desa Pangsan ini kekurangan tenaga pemandu trekking, rafting termasuk tenaga yang menangani sarana akomodasi yang mampu berbahasa asing. Pemerintah diharapkan bisa memberikan pelatihan bahasa asing kepada masyarakat di Desa Pangsan yang selama ini melayani wisatawan yang berlibur di Desa Pangsan.

Dari pelatihan bahasa asing tersebut, diharapkan masyarakat terlibat dalam kegiatan akomodasi, rafting, trekking bisa lebih maksimal melayani wisatawan. Terkait kesenian, generasi muda di Desa Pangsan sudah menyiapkan atraksi kesenian seperti kesenian barong.

Permasalahan yang dihadapi pelaku wisata di Desa Pangsan dari sisi pemasaran paket wisata di Desa Pangsan. Promosi masih dilakukan dari mulut ke mulut sehingga wisatawan yang berlibur ke Desa Pangsan masih sangat terbatas.

Pelaku pariwisata di Desa Pangsan mengatakan, pengembangan desa wisata di Desa Pangsan memang menghadapi banyak kendala termasuk kendala SDM. Dengan melayani wisatawan, hanya dibantu 8 orang pemandu rafting, 4 orang tenaga restoran dan 3 orang pemandu trekking.

Pemerintah diharapkan bisa mengarahkan pengelola hotel termasuk di Nusa Dua bisa memberikan transfer ilmu pengetahuan termasuk transfer wisatawan ke Desa Pangsan. Dengan transfer ilmu tentang pariwisata dan bahasa asing bisa mengangkat SDM di Pangsan untuk melayani wisatawan.

Sementara itu dari sisi promosi, kegiatan rafting, trekking termasuk akomodasi di Desa Pangsan masih dilakukan dari mulut ke mulut. Promosi juga dilakukan dengan melakukan brosur yang disebarkan melalui information center di kawasan pariwisata di Badung, Denpasar termasuk Gianyar. Untuk menjaring wiatawan lebih banyak ke Desa Pangsan memang perlu didukung lebih banyak tenaga kerja termasuk melayani jasa travel wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Badung mengatakan, sebagai bagian desa wisata, Desa Pangsan memiliki daya tarik sektor pertanian, trekking, rafting dan berbagai kesenian tradisional. Desa Pangsan juga sudah memiliki sarana akomodasi berupa pondok wisata termasuk memanfaatkan rumah penduduk sebagai sarana akomodasi.

Terkait kendala ilmu pengetahuan, sektor perhotelan Nusa Dua sudah diarahkan untuk memberikan transfer ilmu kepada masyarakat desa wisata di Badung Utara termasuk di Desa Pangsan. Selain itu, anak-anak sekolah pariwisata juga sudah diarahkan untuk magang/KKN di desa wisata seperti Desa Pangsan.

Melalui anak-anak sekolah pariwisata ini bisa memberikan ilmu dalam bidang penguasaan bahasa asing termasuk keahlian dalam sektor pariwisata kepada masyarakat di Desa Pangsan.

Dari sisi pemasaran pemerintah melalui Disparda Badung masih melakukan pendekatan pengelola hotel-hotel di Badung Selatan termasuk di Nusa Dua untuk mentransfer wisatawan ke desa wisata di Badung Utara. Intinya, pengelola hotel di Badung Selatan diarahkan untuk berbagi wisatawan dengan pelaku wisata yang mengembangkan desa wisata di Badung Utara. Ke depan diharapkan selain menginap di Badung Selatan, wisatawan diharapkan bisa menikmati alam desa wisata di Badung Utara termasuk di Desa Pangsan.

 

Rafting Dukung Pengembangan Wisata Pedesaan

Atraksi wisata arum jeram (rafting) menelusuri Sungai Ayung menjadi daya tarik wisatawan mancanegara dalam menikmati wisata pedesaan yang belakangan mulai diintensifkan di Badung utara. Sedikitnya ada empat perusahaan yang dikelola masyarakat lokal melayani wisata arum jeram di Badung Utara. Masing-masing perusahaan masih berskala kecil, namun profesional dalam melayani jasa atraksi wisata yang cukup menantang itu.

Perusahaan- perusahaan itu membagi alur sungai sedemikian rupa dengan jadwal yang telah disepakati sehingga satu perusahaan dengan yang lainnya tidak berbenturan. Menurut seorang pengelola arung jeram di Badung Utara, pihaknya mengoperasikan delapan perahu karet, didukung tenaga-tenaga andal yang profesional. Setiap bulan melayani rata-rata 100 orang wisatawan mancanegara kebanyakan dari Australia dan Eropa.

Pengembangan wisata pedesaan dirintis sejak tahun 1994. Selain pengelola rafting, juga mengembangkan wisata olah raga, yakni mengajak wisatawan untuk jalan kaki ke tengah-tengah persawahan, perkebunan dan melihat dari dekat aktivitas petani.

 

Wisata Bahari masih Diunggulkan

Wisata bahari di Pantai Lovina, Kecamatan Buleleng belakangan ini telah memberikan kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Ini karena potensi wisata bahari ini hingga kini mampu memikat wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan domestik (wisdom). Pada musim libur, para pemandu wisata bahari ini meraup penghasilan per bulan hingga Rp 3 juta.

Kelian Desa Pakraman Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng mengatakan, berdasarkan pengalamannya menekuni wisata bahari, sejak lama ternyata paket wisata bahari ini peminatnya 80 persen dari total wisatawan yang berkunjung ke Lovina.

Wisatawan itu kebanyakan berasal dari Eropa, Jerman, Prancis, Inggris dan Belanda. Sementara, untuk wisdom kebanyakan datang dari Jakarta, Surabaya, Bandung dan beberapa kota besar di Indonesia. Wisdom ramai berkunjung ke Lovina untuk menikmati paket wisata bahari ketika hari Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.

Dibandingkan dengan di Bali Selatan wisata bahari di Lovina sebenarnya tidak kalah saing. Keunggulan wisata bahari di Lovina ini karena perairan yang memiliki ombak tenang, sehingga memudahkan para pemandunya untuk mengantarkan wisatawan berwisata di tengah laut. Di samping itu, pengelolaan wisata bahari di Lovina sepenuhnya dikelola oleh masyarakat lokal, sehingga 100 persen hasilnya diterima oleh masyarakat lokal.

Diperkirakan ke depan prospek wisata bahari sangat menjanjikan. Apalagi dengan keunggulan dibandingkan daerah lain, potensi ini makin besar memberikan manfaat untuk warga lokal.

Di sisi lain, belakangan ini mulai adanya kendala yang menganjal bisnis jasa pariwisata bahari. Populasi ikan lumba-luma (dolpin) belakangan mulai berkurang. Dulunya ada empat jenis dolpin kini yang masih bisa dijumpai hanya satu jenis saja. Hal ini terjadi karena tidak semua jenis dolpin yang tergolong jinak dan mudah ditemui di tengah laut, tetapi ada jenis dolpin yang sangat sulit ditemui ketika mendengar raungan mesin perahu maupun speed boat.

Di samping itu, menjauhnya beberapa jenis dolpin belakangan ini karena ikan-ikan kecil yang menjadi pakan mulai menjauh mendekati rumpon nelayan yang dipasang di tengah laut lepas. Diharapkan pemerintah bisa memfasilitasi agar para pemandu wisata bahari ini diberikan pemahaman dalam melestarikan populasi dolpin yang masih ada saat ini. Dan memang sejauh ini pemerintah belum pernah memperhatikan masalah ini.

Bagaimana dengan tarif wisata bahari? Tarif sudah disepakati bersama-sama pemandu wisata bahari di Lovina dan jika ada permainan tarif, maka secara kelembagaan akan dikenakan sanksi organisasi.