Konsérvasi penyu Kurma Asih yang bérada di Desa Perancak, Jembrana menjadi sebuah daya tarik wisata. Proses pelestarian binatang berkaki empat itu banyak dikunjungi wisatawan, bahkan menjadi sebuah edukasi bagi sIswa-slswi di Bali juga luar Bali.
Pada musim-musim tertentu, Kurma Asih banyak dikunjungi wisatawan. Utamanya murid-murid yang ingin mengetahui proses penyu berkembang biak,” kata I Wayan Anom Astika Jaya, Ketua Konservasi Kurma Asih. Wisatawan mancanegara yang berkunjung, lebih banyak yang peduli lingkungan seperti dari Ausralia Prancis, dan Belanda. Ada juga yang hanya sekedar melihat-lihat tempat telor, tukik (anak penyu) dan suasana pantai. Demikian pula dengan siswa-siswi. Mereka biasanya datang secara kelompok yang diantar gurunya. Di samping itu, ada juga dari kelompok konservasi penyu daerah lain di Bali dan luar Bali (Kalimantan Timur, Rajampat Papua, dan Jawa) yang melakukan study banding. Diakhir kunjungannya, mereka bisa melepas tukik ke tengah laut. Sayangnya, konservasi penyu yang juga menjadi. daya tarik wisata tidak dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.
Toilet,tempat istirahat dan ruangan untuk menerima tamu tidak ada sama sekali. Tamu-tarnu yang berkunjung diajak duduk di kayu-kayu di bawah pohon dan bale bengong. “Itulah kendala kami. Kami, sudah mohon tapi belum ada realisasinya. Kami juga berusaha mencari bapak angkat,” ucapan Anom penuh harap.
Menurutnya, musim penyu naik ke darat dan bertelur pada April – September. Telur itu akan menetas dalam waktu 60 hari dan 50 hari kalau kulaitas telur baik. Dan 100 telor penyu bisa menetas 80 persen. Tukik itu selanjutnya diletakan di penampunagan maksimal satu bulan. Nah disinilah kendala kami, kalau tidak ada. yang mencari tukik berarti harus lebih lama tinggalnya. Itu akan harus memberi makan. Padahal kami tidak membesarkan dan tidak menangkarkan. Karena itu, tukik yang ada kami lepas saja,” paparnya.
Beralih Profesi
Konservasi Kurma Asih berdiri Sejak 1997 yang anggotanya merupakan masyarakat setempat yang berprofesi sebagai nelayan. Para anggota Kurma Asih ini awalnya sebagai pemburu penyu. Namun, setelah mendapat pembinaan berubah menjadi pelestari penyu. “Hal itu, setelah kami mendapat pembinaan dari pemerintah, LSM, WWF, dan organisasi social lainnya untuk melestarikan penyu. Anom lalu menceritakan, dulu para nelayan ini adalah pemburu penyu yang sadis. Kalau pada malam hari, mereka menangkap penyu dengan menggunakan jaring, sedangkan pada siang hari memakai tombak. Ada juga dari mereka yang menangkap dengan menggunakan tangan. Yang menjadi buruan primadona adalah penyu hijau. giling dan sisik. Hasil tangkapan mereka sampai puluhan ekor dalam setiap han. Bahkan kandang yang rata-rata menampung 10 ekor itu tidak bisa nampung.
Kegiatan ini dilakukan secara turun temurun. Lokasinya tidak hanya di Pantai Perancak, melainkan sampai ke Pantai Gilimanuk dan Alas Purwa. Saat itu, mereka tidak pemah berpikir apakah penyu itu bisa atau lestari. Dalam pikiran mereka, bisa mendapat penyu dan uang. Hasil tangkapan itu di pasarkan ke Denpasar, Sesetan, Kapal, dan Tanjung Benoa.
Mulai tahun 1970-an hasil tangkapan merrka terus berkurang. Jangankan menangkap penyu, melihat kepala penyu naik ke permukaan laut pun jarang. Mereka kebingunan mendapatkan penyu. Mulai tahun 1997, akhirnya datang LSM ke Desa Perancak yang diketahui sebagai daerah pendaratan dan pengeluaran penyu. Keyakinan LSM itu diperkuat setelah mereka melihat jenis penyu lekang yang bersisik bertelur ke darat. Maka mereka yakin kuat Perancak ini sebagai daerah penyu. Semenjak itu, Kurma Asih sangat yakin dan bertekad menjadi pelestari penyu. Masalah pendanaan, dan tahun 1997 sampai tahun 2000 dibiayai WWF. Setelah itu, Kurma Asih menggalang dana sendiri. Lahan yang sebelumnya disewa dari penduduk, mulai tahun 2003 dibebaskan oleh Gubernur Bali sebanyak 20 are.Nah, di atas lahan ini khusus sebagai tempat konservasi penyu.