Archive for the "bali diving" Category

Cuara Buruk Kunjungan ke Bali Water Sports Menurun

Cuaca buruk yang melanda perairan Pulau Bali dan sekitarnya turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan wisatawan. Terbukti, jumlah mereka yang ingin melakukan kegiatan water sport  mengalami penurunan hmgga 20 persen.

Ketua DPC Gabungan Wisata Bahari (Gahawisri) Badung, beberapa hari yang lalu mengatakan, tingginya gelombang disertai angin kencang memicu menurunnya minat wisatawan melakukan aktivitas di laut seperti diving, memancing dan parasailing. “Sejak lima hari lalu, kunjungan wisatawan ke wisata bahari mengalami penurunan dibandingkan hari biasanya. Bahkan, penurunan itu mencapai 20 persen. Kami melarang menjual paket parasailing dan trolling fishing,” katanya.
Menurutnya, low season atau musim sepi pengunjung seperti sekarang ini kunjungan wisatawan hanya mencapai rata-rata 3 ribu orang per hari. Sejak cuaca buruk belakangan ini, junilah tersehut berkurang  menjadi rata-rata 2.400 orang per hari atau anjlok sekitar 20 persen dan hari biasanya.
Selain memberlakukan larangan hagi wisatawan untuk bermain parasailing dan trolliag fishing, sejumlah wisatawan juga banyak yang enggan melakukan wisata bahari.  “Begitu mereka melihat cuaca bunik, mereka mengurungkan niatnya menikmati wisata bahari,” ucapnya.
Dikatakan pihaknya helum bisa memastikan sampai kapan penurunan kunjungan wisatawan itu akan terjadi. Pasalnya,  hingga hari kemarin, cuaca masih tergolong tidak bersahabat. “Kami belum bisa pastikan, sampai kapan kunjunganwisatawan akan pulih lagi” ujarnya.
Kendati demikian untuk keamanan pengunjung, terus koordinasi dengan BMKG untuk memastikan cuaca pulih dan kembali membuka parasailing. Sebab, kegiatan ini merupakan kegiatan yang paling bahaya saat cuaca buruk seperti sekarang.
Sementara itu pengusaha water sport, mengatakan minimnya wisatawan yang melakukan aktivitas wisata seperti parasaiing, diving dan snorkeling akan terus terjadi hingga cuaca kembali membaik. Selama cuaca masih seperti ini otomatis usaha kami akan terus merugi.

 

Wisata Kapal Selam Jadi Alternatif

Menikmati keindahan bawah laut tidak mesti harus memiliki sertifikat menyelam dan keterampilan khusus. Mereka yang tak punya banyak waktu untuk mengikuti kursus diving, ada alternatif lain yang bisa ditempuh salah satunya dengan kapal selam (submarine) yang khusus digunakan untuk menikmati eksotika bawah laut.

Odyssey Safari Asia di Desa Labuhan Amuk, Kecamatan Manggis, Karangasem salah satu perusahaan yang menawarkan jasa penyelaman tersebut. Tercatat kapal selam yang diberi nama Odyssey II itu hanya ada dua di dunia yakni di Labuhan Amuk dan di kepulauan Hawai, Amerika Serikat. Sejak beroperasi sekitar lima tahun silam wisatawan dari berbagai penjuru dunia memanfaatkanya sebagai atraksi wisata alternatif yang aman dengan biaya cukup terjangkau.

Kegiatan Oddysey ini lebih mengutamakan keselamatan dan kenyamanan wisatawan dengan melakukan pemeriksaan pemeriksaan minimal dua kali dalam sehari, baik pengecekan maupun maintenance.

Adapun kapal yang digunakan adalah kapal berwarna putih yang memiliki panjang keseluruhan 56 kaki. Kapal buatan Kanada tersebut sanggup menyelam hingga kedalaman 150 kaki.

Sedangkan bagian lambungnya dilengkapi jendala bundar dari kaca yang dirancang kedap air agar 36 orang penumpang bisa menikmati suasana bawah laut. Kapal yang menyerupai bentuk kapsul itu sendiri, tak menggunakan bahan bakar minyak. Sumber energinya berasal dari baterai yang biasa diisi ulang berbarengan proses pengecekan di kapal induknya. Spesifikasi lainnya, kapal ini dikemudikan dengan kecepatan rata-rata 5 knot dan durasi penyelaman sama seperti diving pada umumnya, 45 menit.

Sementara itu, tamu dari Australia atau Eropa biasanya akan ramai datang pada bulan Juni hingga Juli. Sementara yang dari Rusia, Jepang dan Amerika rata-rata datang pada saat Desember sampai Januari. Atau bertepatan dengan libur Natal dan Tahun Baru. Sementara wisatawan domestik umumnya paling ramai datang saat musim libur Lebaran.

 

Guide Rafting harus Prioritaskan Keselamatan Wisatawan

Adanya kasus kecelakaan yang menimpa wisatawan yang melakukan kegiatan rafting di Bali, harus disikapi dengan meningkatkan kewaspadaan serta memprioritaskan keselamatan wisatawan.

Memasuki musim hujan seperti sekarang ini, air hujan akan berdampak pada penambahan debit air dan kecepatan arus air sungai. Penambahan ketinggian air ini patut diwaspadai guide rafting yang mengantarkan wisatawan melakukan rafting.

Untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan, seperti dalam kegiatan rafting tidak boleh hanya dilakukan satu perahu. Minimal dalam kegiatan rafting dilakukan 2 perahu. Antarperahu ini mesti saling mendukung dan memberikan bantuan jika terjadi kecelakaan dalam kegiatan rafting tersebut.

Dalam rombongan kegiatan rafting satu perahu mesti difungsikan sebagai perahu pengawasan dan pengobatan. Jika sampai ada perahu dalam rombongan membutuhkan pertolongan perahu pengawas ini wajib memberikan pertolongan sehingga tidak sampai terjadi kecelakaan. Perahu yang tersangkut atau terjebak dalam batu besar berpotensi mengalami kecelakaan.

Selain itu, untuk keselamatan seluruh peserta rafting juga wajib menggunakan alat pengaman. Ini terutama helm pengaman dan baju pelampung yang bisa membuat wisatawan mengapung ketika keluar dari perahu seperti ketika perahu terbalik.

 

Tunggu Aturan untuk Keluarkan Sertifikat Guide Rafting

Guna meningkatkan kualitas SDM guide rafting di Bali, tentu mesti diikuti dengan diklat termasuk proses sertifikasi. Untuk saat ini, Disparda masih fokus pemberian diklat, sementara untuk pemberian sertifikat bagi guide rafting, masih menunggu aturan pendukung.

Untuk kegiatan wisata bahari di laut seperti diving , guide diving sudah dilengkapi dengan sertifikat. Sertifikat ini bisa diperoleh pada pelatihan diving yang diberikan lembaga berstandar internasional yang ada di Bali. Adapun yang perlu mendapatkan perhatian adalah guide rafting karena belum ada lembaga yang bisa memberikan sertifikasi. Disparda Bali saat ini baru memberikan bimbingan teknis (bintek) kepada guide rafting di Bali. Dari bintek tersebut, Disparda memberikan surat keterangan telah mengikuti bintek.

Dalam bintek tersebut, Disparda Bali memberikan penjelasan keahlian apa yang wajib dimiliki pemandu wisata bahari termasuk guide rafting maupun guide diving. Setelah mengikuti bintek, guide rafting ini perlu melalui uji sertifikasi.

Sementara itu, Disparda masih menunggu aturan yang memperkuat untuk bisa memberikan sertifikasi bagi guide rafting. Jika aturan tersebut telah ada, surat keterangan bintek yang telah dikantongi guide rafting bisa dijadikan dasar untuk mengikuti uji sertifikasi yang dilakukan Disparda Bali. Disparda tetap berharap ke depan guide rafting memiliki sertifikat yang setara dengan pramuwisata lainnya.

Selain itu, untuk memberikan sertifikasi bagi guide rafting ini, memerlukan proses yang panjang. Ini termasuk Disparda Bali masih menunggu dikeluarkannya dasar hukum yang kuat bagi Disparda untuk mengeluarkan sertifikat bagi guide rafting di Bali. Sementara, untuk memasukkan guide rafting dan guide diving dalam HPI Bali mesti dibicarakan lebih lanjut dengan Gahawisri Bali.

 

Guide Rafting bisa Bergabung dengan HPI

Pemandu wisata (guide) rafting, diving dan snorkeling merupakan bagian profesi sebagai pramuwisata. Ketua DPD HPI Bali mengatakan, guide rafting, diving dan snorkeling ini bisa masuk menjadi bagian anggota HPI dalam satu komisariat khusus.

Saat ini guide khusus yang sudah masuk sebagai bagian anggota HPI Bali adalah guide pendaki gunung. Guide pendaki gunung ini memiliki keahlian khusus berupa mendaki gunung dan memberikan penjelasan kepada wisatawan pecinta alam tersebut dalam bahasa asing.

Guide pendaki gunung seperti di wilayah Kintamani sudah tergabung dalam satu asosiasi. Salah satu contoh pendaki Gunung Batur sudah tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Pendaki Gunung Batur (HPPGB). HPPGB memiliki anggota sekitar 51 orang pramuwisata pendaki gunung. HPPGB ini sudah resmi di bawah HPI Bali karena bagian dari pramuwisata. Dan HPPGB ini sudah menjadi salah satu komisariat di HPI Bali.

Para guide diving, guide snorkeling, guide rafting bisa menjadi anggota HPI Bali, karena mereka memiliki profesi sebagai pramuwisata dengan keahlian khusus. Guide rafting, diving dan snorkeling ini juga memberikan petunjuk dalam mengantar wisatawan dalam kegiatan wisata bahari.

Selaku guide, mereka bisa bergabung dalam satu komisariat khusus di bawah HPI Bali. Salah satu contoh komisariat dari guide rafting, diving dan snorkeling tersebut bisa diberi nama komisariat pramuwisata wisata bahari.

Sementara itu, untuk merangkul guide rafting, snorkeling dan diving tersebut, HPI Bali akan berkoordinasi dengan Disparda Bali dan Gahawisri Bali. Jika Gahawisri memandang perlu, guide itu bisa diarahkan masuk dalam bagian anggota HPI Bali dalam komisariat khusus.

Selain itu, untuk memasukkan guide tersebut sebagai anggota HPI juga perlu pembicaraan yang mendalam antara HPI, Disparda Bali dan Gahawisri. Sama seperti halnya pramuwisata di darat, HPI bersama Disparda dan Gahawisri juga bisa menyelenggarakan diklat dan memberikan uji sertifikasi kepada guide diving, snorkeling dan guide rafting. Selanjutnya setelah mengikuti diklat dan lulus sertifikasi, guide rafting, diving dan snorkeling ini bisa menjadi bagian dari anggota HPI dalam satu komisariat wisata bahari. Guide rafting ini memerlukan keahlian khusus untuk mengetahui kecepatan air, menghadapi rintangan batu termasuk keterampilan beretika di depan wisatawan. Selain pengetahuan tentang wisata tirta dan bahasa asing, guide rafting ini harus tahu tentang etika dalam memandu wisatawan rafting.

 

Perlu Ditambah, Kawasan Wisata Bahari di Bali

Wisata bahari khususnya di Bali, memiliki prospek menjadi wisata unggulan dunia. Untuk menjadi wisata unggulan perlu adanya tambahan daya tarik baru terutama pada kawasan-kawasan wisata bahari di Bali termasuk kawasan wisata bahari di Indonesia Timur.

Pengusaha wisata bahari seperti di Bali berharap seluruh wisatawan bisa memanfaatkan jasa wisata bahari. Hanya saja, penawaran wisata bahari di Bali termasuk di Indonesia Timur lainnya tidak boleh sampai merusak keindahan alam laut.

Pengusaha wisata bahari di Bali termasuk di Indonesia secara umum mesti menekan dampak negatif pemanfaatan wisata bahari termasuk kerusakan alam bawah laut.

Selain menekan dampak kerusakan alam laut, pengusaha wisata bahari bersama pemerintah mesti berupaya membuat daya tarik baru pada kawasan-kawasan wisata bahari di Indonesia. Saat ini kawasan wisata bahari yang banyak dikunjungi wisatawan di Indonesia seperti Pulau Komodo, Tulamben dan objek wisata bahari lainnya.

Kawasan perairan yang berpotensi jadi kawasan wisata bahari perlu ditambah daya tarik baru. Salah satu contoh pemerintah atau pelaku pariwisata bisa menenggelamkan kapal laut. Kapal ini akan menjadi tempat perkembangan biota laut termasuk terumbu karang. Kapal yang ditenggelamkan di dasar laut tersebut akan menjadi daya tarik wisata baru.

Sebelumnya tahun 1940-an sempat ditenggelamkan kapal Ship Wreek USS Liberty di Tulamben. Kapal tersebut ditenggelamkan pada zaman penjajahan. Sampai saat ini kapal yang ditenggelamkan tersebut tetap menjadi daya tarik wisata bahari di Tulamben.

Diharapkan kapal-kapal tua di Tanjung Priok bisa ditenggelamkan di Bali atau kawasan Indonesia Timur. Ini dilakukan untuk membuat daya tarik baru pada kawasan wisata bahari di Bali termasuk di kawasan Indonesia Timur.

Jika pemerintah pusat bisa menenggelamkan kapal-kapal tua di kawasan wisata bahari di Bali dan Indonesia Timur akan menjadi daya tarik bagi wisatawan. Peserta diving dari mancanegara akan tertantang untuk memasuki ruangan kapal yang telah ditenggelamkan di dasar laut.

Sampai saat ini Bali masih memiliki daya tarik wisata bahari. Hanya saja perlu ditambahkan daya tarik baru. Apalagi Pemprop Bali bisa melobi pemerintah pusat untuk menenggelamkan kapal tua di kawasan wisata bahari yang ada di Bali otomatis penguna wisata bahari di Bali akan makin bertambah.

 

Objek Wisata di Badung Diminati Wisatawan Kanada

Keindahan panorama pantai yang dimiliki Kabupaten Badung menjadikan kawasan tersebut tujuan wisatawan mancanegara (wisman). Bahkan, kawasan wisata seperti Pantai Kuta, Pantai Dreamland, Petitenget serta kawasan pantai di Nusa Dua menjadi tempat favorit, khususnya wisatawan Kanada selama berlibur di Bali.

“Khusus untuk wisatawan Kanada biasanya menyukai destinasi yang beriklim tropis dengan kawasan pantai yang luas. Sebab, iklim di negara mereka sangat dingin, meski musim panas,” ujar seorang guide Kanada di Kuta.

Selama berlibur di Bali, wisatawan Kanada lebih memilih menghabiskan masa berliburnya menikmati beragam aktivitas bahari seperti berselancar, diving, snorkeling, jetski, parasailing sembari berjemur di pantai.

Turis Kanada termasuk kategori wisatawan yang loyal terhadap destinasi Bali. Mereka selalu ingin mencoba tiap paket wisata yang ditawarkan terutama yang berhubungan dengan wisata bahari. Mereka juga senang shopping mengunjungi beberapa pasar seni seperti Pasar Seni Kumbasari, Kuta, dan Sukawati.

Sementara itu, mahalnya biaya transportasi menjadi penyebab masih minimnya kunjungan wisatawan Kanada ke Bali. Eropa, Amerika, dan Kanada biaya penerbangannya selalu yang paling mahal. Karena itu, dampak krisis global berkepanjangan yang terjadi belum lama ini paling banyak mempengaruhi kedatangan wisatawan Kanada ke Bali.

 

Cuaca Buruk, Wisata Bahari Terganggu

Cuaca buruk yang melanda perairan di Bali dan sekitarnya dalam beberapa hari ini, menimbulkan kekhawatiran di kalangan wisatawan. Terbukti, jumlah mereka yang ingin melakukan kegiatan wisata bahari mengalami penurunan hingga 20 persen. “Tingginya gelombang disertai angin kencang memicu menurunnya minat wisatawan melakukan aktivitas di laut seperti diving , memancing, dan parasailing. Mereka banyak yang mengaku ragu untuk berwisata di laut. Saat ini saja, kurang lebih 10 orang wisatawan yang batal diving (menyelam) karena angin kencang di atas normal, serta gelombang laut yang ganas,” ungkap Kepala Operasional Water Sport Activity di Sanur, Senin (18/1) kemarin.

Menurutnya, minimnya wisatawan yang melakukan aktivitas wisata seperti parasailing, diving, dan snorkeling akan terus terjadi hingga cuaca membaik. “Selama cuaca masih seperti ini otomatis usaha kami akan terus merugi,” katanya.

Terkait jumlah kerugian yang harus ditanggung, Sukanta enggan mengatakan. “Kerugian akibat cuaca buruk sudah menjadi hal biasa yang rutin terjadi. Sebab, jika cuaca buruk, bisnis wisata bahari juga pasti terpuruk,” ungkapnya.

Dampak angin kencang disertai gelombang tinggi, menurut Kepala Kantor Pelabuhan Nusa Penida Satker Sanur, juga mengganggu kelancaran transportasi Sanur-Nusa Lembongan-Jungut Batu.

“Gelombang pasang juga berdampak pada jumlah pelancong, baik domestik maupun mancanegara yang hendak melakukan aktivitas bahari di ketiga pulau itu. Jumlah penumpang yang berangkat saat ini rata-rata hanya mencapai 10 orang dari sebelumnya bisa mencapai 30-50 orang. Di samping itu, selain memang minim penumpang kami juga sengaja mengurangi kapasitas kapal untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, memperkirakan Bali akan diterjang gelombang tinggi hingga mencapai 3,5 meter. Cuaca buruk diperkirakan akan terjadi sejak Senin (18/1) kemarin hingga Kamis (21/1) mendatang.

 

Wisata Bahari di Bali, Potensi Menggiurkan Aturan Tidak Jelas

Aktivitas wisata air di Bali lima tahun terakhir kian memperlihatkan giginya sebagai salah satu attraksi favorit wisatawan. Hal ini terbukti dengan banyaknya akomodasi kepariwisataan yang mencari daerah pesisir sebagai background-nya. Fenomena ini menjadi contoh kecil bahwa perairan di Bali menjadi aset yang sangat berharga dan menarik wisatawan mancanegara dan domestik. Demikian diungkapkan Yos Amerta Ketua Gabungan Pengusaha Wisata Air Indonesia (Gahawisri) Bali.

Menurutnya Pulau Bali memiliki pantai sepanjang 430 km, dan sekitar 177,8 km berpotensi untuk dikembangkan sebagai wisata bahari. Sekarang ini, Bali memiliki sekitar 172-an pengusaha atraksi wisata tirta dan sebanyak 85 % berupa diving dan rekreasi air. Bahkan Bali memiliki kawasan wisata bahari terbaik saat ini di Indonesia. Sanur, Tanjung Benoa, Nusa Penida, Nusa Lembongan, Padang Bay, Candidasa, Amed, Tulamben, Lovina, Pamuteran, Menjangan dan Secret Bay adalah beberapa daerah yang banyak dimanfaatkan untuk atraksi wisata air,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Namun yang jadi problem Ianjutnya, adalah belum adanya peraturan daerah yang mengatur mengenai tata ruang laut terutama dalam hal carring capacity. “Hingga saat ini belum ada perda yang mengatur hal ini sehingga terkesan tak ada perhatian dari pemerintah, Potensi dan kawasan luar biasa.

Aturannya yang tidak jelas bahkan tidak ada sama sekali,” tambahnya tegas seraya memprediksi bila ini terus berlanjut yang paling ditakutkan adalah akan terjadi over load di suatu kawasan. Selain itu membahayakan keselamatan pengguna dan menimbulkan persaingan yang tak sehat diantara para pengusaha.

Mestinya kata the owner Yos Diving ini untuk menghindari persaingan ini pemerintah dapat melakukan sebuah studi tata ruang. Selain itu perijinan pun harus dapat Iebih selektif diberikan oleh dinas terkait yang dalam hal ini Dinas Pariwisata, Perhubungan dan Dinas Tenaga Kerja. “Kami sudah berulang kali membahas mengenai hal ini, namun realisasinya selalu buntu karena terbentur masalah dana,” sesalnya.


Lebih lanjut ia mengatakan sebenarnya kegiatan wisata bahari di Bali telah memiliki pasar sendiri untuk dikembangkan. Namun sayangnya ada lima hal klasik yang menyebabkan jenis atraksi ini terlihat belum maksimal penggarapannya. “Promosi, marketing strategi, kecepatan merespon pasar dan SDM, adalah kelemahan kita dalam dunia pariwisata,”tegasnya.


Di kawasan Tanjung Benoa misalnya, kawasan dengan atraksi wisata terbanyak ini makin diminati wisatawan (mancanegara /domestik) dari waktu ke waktu. Bahkan bila liburan tiba para pengusaha kewalahan menghadapai konsumennya. Namun yang sangat disayangkan adalah penataan kawasan serta tidak adanya rambu-rambu sebagai tuntunan wisatawan tentunya akan sangat berakibat fatal bagi keselamatan konsumen. “Bali juga miskin akan rambu-rambu laut, dimana boleh dan dimana tidak boleh melakukan aktivitas wisata tirta tidak ada rambu-rambunya,” tambah.

Seiring dengan trend aktivitas wisata tirta juga mengarah pada kegiatan pelayaran yang sudah barang tentu semakin menambah semarak aktivitas wisata ini. Namun sayang seribu sayang, Bali belum memiliki darmaga yang memadai untuk mengantisipasinya. “Disatu sisi pemerintah belum mampu menyediakan sarana dan prasarana khususnya dermaga. Namun hukum selangkah lebih maju yang membentur hal ini,” katanya sembari menambahkan bahwa dibalik semaraknnya kegiatan wisata tirta, semakin semarak pula problem yang dihadapi. “Dan ini tak bisa diselesaikan dengan cepat seperti semudah membalikkan telapak tangan,”sebutnya.

 

Mengenal Lebih Dekat Tentang Diving

Menyelam atau lebih dikenal dengan istilah scuba diving adalah salah satu cara untuk memasuki dunia keindahan bawah laut. Menyelam atau diving menawarkan kehidupan petualangan yang menakjubkan dan memacu adrenalin bagi yang mencobanya. Hanya sedikit orang yang pernah merasakan dan secara langsung menyaksikan dan mengalami serta melihat indahnya dunia bawah laut. Tentu saja ini menjadi pengalaman tak terlupakan bagi yang pernah mencobanya.

Bali Diving

Bali Diving

Menyelam menjadi aktivitas yang dapat mendekatkan diri dan mancintai alam. Menyelam adalah rekreasi dan wisata yang berwawasan llingkungan. Untuk dapat rnenyelam digunakan 2 cara yaitu snorkeling / skin diving dan scuba diving. Perbedaan antara snorkeling/skin diving adalah:

Skin Diving:kegiatan ini dilakukan di permukaan air dan pada kedalaman yang relatif dangkal, serta waktu penyelaman yang relatif terbatas, bergantung kepada teknik kemampuan penyelam dalam menahan nafas. Peralatan yang dibutuhkan saat akan skin diving tidak terlalu banyak seperti scuba diving, yaitu hanya dibutuhkan masker beserta snorkel-nya, kemudian fins dan bagi yang belum terlalu pandai berenang bisa rnemakai juga live vest atau rompi pelampung tambahan.

Scuba diving kegiatan ini dilakukan di bawah permukaan laut dengan kedalaman yang lebih dalam serta waktu penyelaman yang lebih lama, tetapi dibutuhkan peralatan pendukung yang lengkap seperti regulator, BCD, tank, dsb. Peralatan tersebut dinamakan SCUBA yang merupakan kepanjangan dan Self Contained Under Water Breathing Apparatus. Untuk menggunakan peralatan tersebut sangat diperlukan pelatihan melalui kusus dibawah panduan instruktur secara langsung.

Dengan pelatihan yang benar dan tepat serta seorang instruktur yang professional maka penyelaman akan rnengembangkan pengetahuan dan kemampuan secara menyeluruh dan lebih mendalam. Selama pelatihan selam akan diajarkan mengenai teori dan praktik yang berhubungan dengan penyelaman. Sertifikat akan diberikan setelah selesai mengikuti pelatihan. Dengan rnemenuhi seluruh standar yang berlaku, sertifikasi selam yang dimiliki berlaku secara international. Jadi tak perlu kuatir seat akan menyelam di luar perairan Indonesia, karena sertifikat SSI sudah diakui di seluruh dunia. Tanpa sertifikat menyelam orang tidak diperbolehkan rnenyelam bahkan saat akan menyewa peralatan pun diharuskan memperlihatkan sertifikat. Ada berbagai macam organisasi selam yang memberikan pelatihan dan sertifikasi menyelam. Dalam memilih kursus dan pelatihan diving pilihlah organisasi yang memiliki sertifikat yang berlaku dan diakui secara internasional.

Syarat Untuk Diving:

  • Sehat jasmani dan rohani
    Kesehatan merupakan hal yang mutlak dan harus diperhatikan sebelum anda memutuskan mengikuti pelatihan diving, maka dari itu ada baiknya juga anda melengkapi surat keterangan sehat dan Iayak secara medis dari dokter atau rumah sakit sebelum anda memulai mengikuti pelatihan diving, hal tersebut penting dan menjadi syarat utama.
  • Usia minimum 15 tahun
    Siapun anda yang berusia minimum 16 tahun dan tentunya memiliki kondisi tubuh yang sehat dapat mengikuti pelatihan diving. Untuk peserta yang berusia di bawah 15 tahun yang dapat mengikuti pelatihan diving, tetapi sertitikat yang diberikan berbeda, pada usia 15 tahun diberikan sertifikat open water junior.
  • Memiliki kemampuan di air / watermanship
    Banyak anggapan umum yang menyatakan bahwa untuk menjadi seorang penyelam diperlukan kemampuan berenang yang hebat seperti seorang atlet. Apakah hal tersebut itu benar? Jawabannya tidak terlalu benar, untuk menjadi seorang penyelam anda tidak harus memiliki kemampuan seperti seorang atlet renang, tetapi cukup dapat berenang sejauh 200 meter, berenang dengan jarak 12 meter di bawab air (Apnea/ menahan nafas) dan dapat mengambang di permukaan selama 10 menit tanpa bantuan alat (water trapen)