Archive for November, 2009

Wisata Bahari di Bali, Potensi Menggiurkan Aturan Tidak Jelas

Aktivitas wisata air di Bali lima tahun terakhir kian memperlihatkan giginya sebagai salah satu attraksi favorit wisatawan. Hal ini terbukti dengan banyaknya akomodasi kepariwisataan yang mencari daerah pesisir sebagai background-nya. Fenomena ini menjadi contoh kecil bahwa perairan di Bali menjadi aset yang sangat berharga dan menarik wisatawan mancanegara dan domestik. Demikian diungkapkan Yos Amerta Ketua Gabungan Pengusaha Wisata Air Indonesia (Gahawisri) Bali.

Menurutnya Pulau Bali memiliki pantai sepanjang 430 km, dan sekitar 177,8 km berpotensi untuk dikembangkan sebagai wisata bahari. Sekarang ini, Bali memiliki sekitar 172-an pengusaha atraksi wisata tirta dan sebanyak 85 % berupa diving dan rekreasi air. Bahkan Bali memiliki kawasan wisata bahari terbaik saat ini di Indonesia. Sanur, Tanjung Benoa, Nusa Penida, Nusa Lembongan, Padang Bay, Candidasa, Amed, Tulamben, Lovina, Pamuteran, Menjangan dan Secret Bay adalah beberapa daerah yang banyak dimanfaatkan untuk atraksi wisata air,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Namun yang jadi problem Ianjutnya, adalah belum adanya peraturan daerah yang mengatur mengenai tata ruang laut terutama dalam hal carring capacity. “Hingga saat ini belum ada perda yang mengatur hal ini sehingga terkesan tak ada perhatian dari pemerintah, Potensi dan kawasan luar biasa.

Aturannya yang tidak jelas bahkan tidak ada sama sekali,” tambahnya tegas seraya memprediksi bila ini terus berlanjut yang paling ditakutkan adalah akan terjadi over load di suatu kawasan. Selain itu membahayakan keselamatan pengguna dan menimbulkan persaingan yang tak sehat diantara para pengusaha.

Mestinya kata the owner Yos Diving ini untuk menghindari persaingan ini pemerintah dapat melakukan sebuah studi tata ruang. Selain itu perijinan pun harus dapat Iebih selektif diberikan oleh dinas terkait yang dalam hal ini Dinas Pariwisata, Perhubungan dan Dinas Tenaga Kerja. “Kami sudah berulang kali membahas mengenai hal ini, namun realisasinya selalu buntu karena terbentur masalah dana,” sesalnya.


Lebih lanjut ia mengatakan sebenarnya kegiatan wisata bahari di Bali telah memiliki pasar sendiri untuk dikembangkan. Namun sayangnya ada lima hal klasik yang menyebabkan jenis atraksi ini terlihat belum maksimal penggarapannya. “Promosi, marketing strategi, kecepatan merespon pasar dan SDM, adalah kelemahan kita dalam dunia pariwisata,”tegasnya.


Di kawasan Tanjung Benoa misalnya, kawasan dengan atraksi wisata terbanyak ini makin diminati wisatawan (mancanegara /domestik) dari waktu ke waktu. Bahkan bila liburan tiba para pengusaha kewalahan menghadapai konsumennya. Namun yang sangat disayangkan adalah penataan kawasan serta tidak adanya rambu-rambu sebagai tuntunan wisatawan tentunya akan sangat berakibat fatal bagi keselamatan konsumen. “Bali juga miskin akan rambu-rambu laut, dimana boleh dan dimana tidak boleh melakukan aktivitas wisata tirta tidak ada rambu-rambunya,” tambah.

Seiring dengan trend aktivitas wisata tirta juga mengarah pada kegiatan pelayaran yang sudah barang tentu semakin menambah semarak aktivitas wisata ini. Namun sayang seribu sayang, Bali belum memiliki darmaga yang memadai untuk mengantisipasinya. “Disatu sisi pemerintah belum mampu menyediakan sarana dan prasarana khususnya dermaga. Namun hukum selangkah lebih maju yang membentur hal ini,” katanya sembari menambahkan bahwa dibalik semaraknnya kegiatan wisata tirta, semakin semarak pula problem yang dihadapi. “Dan ini tak bisa diselesaikan dengan cepat seperti semudah membalikkan telapak tangan,”sebutnya.